"Serbuan Maut" mengisahkan pasukan khusus  berjumlah 20 orang yang mengemban misi menangkap raja bandar narkoba bernama Tama, yang diperankan oleh aktor kawakan Ray Sahetapi. Pasukan yang dipimpin oleh Wahyu (Pierre Gruno) itu berusaha menangkap Tama di "kerajaannya", sebuah apartemen kumuh penuh kawanan kriminal yang tak tersentuh oleh siapapun.

Ketika mengamankan gedung, pasukan khusus terlihat oleh salah satu pengintai dan terperangkap di tengah-tengah gedung. Mereka harus berjuang melewati setiap lantai ke atas untuk bertahan hidup dan menyelesaikan misi mereka.

Ario Sagantaro, produser "Serbuan Maut" mengatakan jalan cerita berlangsung selama satu hari. Dia juga mengatakan adegan laga film ini lebih agresif daripada "Merantau".

"Lebih agresif dari Merantau, lebih banyak senjata yang digunakan. Di Merantau 'fight' untukmenang kalah, di Serbuan Maut untuk hidup mati," kata pria yang biasa dipanggil dengan nama Toro itu, dalam jumpa pers pada hari Kamis (3/2) di F-Cone, FX Mall, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta.

Evans mengatakan film terbarunya akan menceritakan drama yang tidak berat dengan actionyang menendang sejak 15 menit awal film dan nyaris terus beraksi hingga akhir film.

"Kami masih bekerja untuk menyeimbangkan cerita dengan action," kata Evans.

Iko dan Yayan Ruhian (dalam film itu juga berperan sebagai tangan kanan Tama yang bernama Mad Dog) bertindak sebagai koreografer adegan laga. Film ini juga dibintangi oleh Donny Alamsyah yang memerankan tokoh antagonis. Anggota pasukan khusus diperankan oleh Iko, atlet Judo Joe Taslim, Ananda George, Verdi Solaiman dan lain-lain.

Pemeran pasukan khusus mengikuti pelatihan bootcamp selama lima hari di markas besar Kopaska (Komando Pasukan Katak Angkatan Laut Indonesia). Dalam pelatihan itu mereka mendapat materi dasar penggunaan senjata api, serangan strategis, teknis pertahanan, disiplin mental dan fisik seorang pasukan khusus, dan kebersamaan sebagai satu tim solid.